Skip navigation

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa  pemerintahan SBY-JK berjalan dengan rumus 2-1-2, dalam pengertian 2 tahun konsolidasi (yang nyaris tanpa hasil); 1 tahun “masa leluasa kebijakan”; dan 2 tahun persiapan menuju Pemilu 2009 (Eef Saifullah Fatah). Tampaklah dalam perilaku politik pemerintahan bahwa tidak ada hal yang lebih menyita perhatian dari upaya menjaga kepentingan dan termasuk kemenangan pada Pemilu 2009. Semua poros kekuatan terserap ke dalam orbit ini ( baik partai, politisi), apalagi mereka yang sejak awal berniat menjadi kandidat presiden.

Itulah alasan politik mengapa pemerintahan SBY-JK tidak memiliki produktivitas yang diharapkan sesuai dengan janji kampanye mereka.  Angka masyarakat miskin tidak juga terkoreksi, keamanan pangan terancam, kualitas pendidikan rendah, pertahanan juga lemah. Dalam keadaan seperti itu korupsi malah semakin menjadi-jadi, meski pun dengan sedikit kebanggaan pemerintah menunjukkan adanya sejumlah pejabat pemerintah yang sudah dipenjarakan karena mkorupsi.

Pada awal pemerintahan KIB II SBY telah dihujat oleh banyak orang antara lain karena beberapa kasus besar seperti renumerasi gaji pejabat tinggi, pemberian mobil mewah kepada menteri, kasus bank century, pemberantasan korupsi yang mati suri, dan lain-lain. Gerakan-gerakan yang menasional bermunculan, antara lain yang menamakan diri Gerakan Indonesia Bersih (GIB) yang melakukan demonstrasi besar-besaran pada akhir tahun lalu, BENDERA yang membeberkan aliran dana Bank Century dan jangan lupa George Junus Aditjondro yang menulis buku Gurita Cikeas.

GIB misalnya secara tegas menilai bahwa SBY telah gagal  melindungi kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional, menegakkan negara hukum, melakukan pemberantasan korupsi, menyejahterakan dan melindungi petani, buruh, nelayan, kaum miskin perkotaan dan buruh migran, serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyehatkan bangsa.

Banyak pihak memang yang sudah  mengekspresikan ketidak-puasan terhadap kepemimpinan SBY. Kelompok Aktivis 77/78 maju dengan isyu utama korupsi. ILUNI Jakarta menyorot berbagai ketimpangan dan pilihan ekonomi neolib, dan akhir-akhir ini Muktar Pakpahan mengajukan somasi karena yakin bahwa SBY dalam menjalankan tugasnya sebagai Presiden RI selama 6 tahun yang sudah berjalan ini telah gagal melaksanakan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea IV dengan pengajuan sejumlah bukti.

ILUNI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) Jakarta akhir tahun lalu  menegaskan bahwa tahun 2010 adalah tahun perlawanan.  Dalam 7 butir rekomendasinya, ILUNI Jakarta menyesali pilihan jalan neoliberal untuk Indonesia selama 42 tahun sebagai biang ketergadaian kedaulatan, harkat dan martabat bangsa.  Alur pikiran yang disusun berawal pada gugatan terhadap legitimasi kepemimpinan nasional melalui pemilu 2009 yang berlangsung penuh kecurangan. Mereka menyesali kesadaran politik semu yang berpangkal pada metode “penyunglapan” kebenaran berdasarkan trend perspektif juridis formal yang mengabaikan rujukan juridis filosofis dan sosiologis. Tidak menjadi aneh jika dengan sendirinya Indonesia memulai kembali lembaran kenegaraan dan kebangsaannya dengan situasi saling tidak percaya, terbiasa melanggar, dan kehilangan ketauladanan serta terancam disintegrasi.

Keistimewaan buku “Kegagalan SBY” terletak pada pemaparan fakta dan data tentang 19 masalah besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang dapat dipertanggungjawabkan. Dari segi itu semua pihak yang berseberangan dalam hal suka atau tidak suka kepada kepemimpinan SBY dianggap sama-sama memerlukan buku ini.

Bagi pendukung SBY (jaringan partai atau di luarnya) buku ini menjadi kritik konstruktif yang jika masih ada niatan tulus, silakan diperbaiki. Sedangkan bagi pihak penentang kepemimpinan SBY buku ini dapat melengkapi agar tidak cuma asal tidak suka dan sentimentil.

Data Buku:

Judul       : Kegagalan SBY Dalam Fakta dan Angka

Penulis    : Muchtar Effendi Harahap & Muhammad Sutopo

Penerbit : Pustaka Fahima, Yogyakarta (2010)

ISBN        :978-979-1355-68-1

One Comment

  1. sepertinya harus hunting ke toko buku ..

    nice infoh n hatur tararengkyu😉


One Trackback/Pingback

  1. By SENSASI MUCHTAR PAKPAHAN? « 'nBASIS on 02 Okt 2010 at 8:09 am

    […] Resensi Buku: KEGAGALAN SBY. MELAWAN SBY DENGAN DATA, TANPA SENTIMEN APA PUN « GEREP NAHINAN […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: