Skip navigation

Hanya koruptor kecil yang sering menggunakan kita. Bayangkan kalau sekelas petinggi negara dan petinggi perusahaan multi nasional berkorupsi. Jumlahnya besar. Kapasitas kita tak lagi bisa mewadahi hasrat mereka. Karena wujud kita tidak mungkin ada dalam jumlah tertentu yang mereka hasrati, maka kita pun diganti dengan mata uang lain. Dolar Amerika misalnya. Menyogok dengan uang kontan 1 milyar rupiah, berapa banyak uang dari jenis kami yang akan disusun? Tidak praktis. Berat. Gampang ketahuan, padahal korupsi itu kudengar pekerjaan rahasia dan amat sembunyi-sembunyi.

Anda tentu tak pernah menyadari sama sekali bahwa lembaran-lembaran uang milik Anda punya banyak pengalaman. Sesama uang dalam pecahan yang sama maupun pecahan yang berbeda, sekali lagi Anda tentu tak pernah menyadarinya, sering terjadi dialog tentang pengalaman-pengalaman mereka akibat perlakuan dan pemaknaan orang banyak terhadap mereka. Dialog berikut adalah rekaman pembicaraan antara selembar uang pecahan Rp 1000  (Ribu) dan Rp 100000 (Ratus) ketika untuk kesekian kalinya bertemu di kantong seorang tukang ojek.

Ratus Hei Ribu, tampaknya kau kurang sehat. Lusuh benar dan aromamu tak karuan.
Ribu Ya begitulah, kak. Kita memang sesama mata uang resmi dalam sebuah negara. Tetapi nasib kita berbeda. Aku beredar di antara mayoritas rakyat negeri ini, sering diremas untuk lolos di pintu sempit tabung-tabung amal di berbagai rumah ibadah. Aku sahabat orang miskin. Lebih tepatnya diciptakan untuk meyakinkan orang miskin bahwa mereka juga manusia. Sedangkan kaka hanya punya satu persamaan dengan saya: dicetak pada pabrik yang sama. Dalam banyak hal kita adalah simbol kelas penindas dan kelas tertindas. Kita mewakili nasib yang berbeda dalam hubungan eksploitatif. Tetapi, kak, itu tak menjadi alasan bagi kita untuk tidak saling memperdulikan nasib sesama. Itu cuma saran, kak, jika kaka setuju.
Ratus

Kau jangan sedih. Aku pun punya cerita yang tak selalu bahagia. Akulah pecahan tertinggi uang di negeri ini. Karena itu nasibku pun juga memiliki resiko amat tinggi pula. Pertama, sadarilah bahwa aku tak pernah diinginkan mengisi tabung-tabung amal yang kau sebutkan itu. Aku merasakan sering dibawa ke tempat itu, tapi sumpah: saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana bentuk rumah ibadah. Aku hanya menyertai banyak orang yang masuk ke rumah ibadah dalam posisi terlipat dalam dompet yang disimpan dalam kantong. Kedua, aku menggantikan makna dan nilai, sama seperti kau, walaupun tentu aku paling banyak mewadahi itu. Koruptor, kau tahu itu meskipun dari kabar-kabar yang diperbincangkan orang di warung-warung atau di mana saja. Kau kan tak pernah mengalami substitusi pewadahan rasa puas orang terhadap seks betapapun tak bermartabatnya. Juga terhadap kerakusan atas kekuasaan yang diekspresikan dengan pembunuhan, fitnah dan saling menjatuhkan. Akulah yang dipergunakan di sisi-sisi kesyetanan manusia itu. Ketiga, ah sudahlah, aku tak sanggup meneruskannya.

Ribu Teruskan, kak. Pengalaman kaka tampaknya menarik untuk disimak. Teruskan, kak.
Ratus

Sudahlah. Aku lebih baik bercerita satu hal lain. Kau tadi bilang agak rendah diri melihat saya yang tak selusuh dirimu. Itu benar. Tetapi tahukah kau kau dan aku ini amat tak dihargai di negeri orang. Mereka tukarkan jumlah besar dan timbangannya berat, disusun dalam tas-tas besar, yang kesemuanya kawan-kawan kita, termasuk saya, uang Indonesia, rupiah, cuma dengan jumlah yang amat sedikit. Jika kita digunakan untuk korupsi. Ya, korupsi. Ah, sedih. Sedih.

Ribu Maksud kaka?
Ratus

Ketika Koruptor kakap bermain, kau kira mereka mempergunakan kita? Tidak. Tidak. Hanya koruptor kecil yang sering menggunakan kita. Bayangkan kalau sekelas petinggi negara dan petinggi perusahaan multi nasional berkorupsi. Jumlahnya besar. Kapasitas kita tak lagi bisa mewadahi hasrat mereka. Karena wujud kita tidak mungkin ada dalam jumlah tertentu yang mereka hasrati, maka kita pun diganti dengan mata uang lain. Dolar Amerika misalnya. Menyogok dengan uang kontan 1 milyar rupiah, berapa banyak uang dari jenis kami yang akan disusun? Tidak praktis. Berat. Gampang ketahuan, padahal korupsi itu kudengar pekerjaan rahasia dan amat sembunyi-sembunyi. Maka mereka mengganti dengan uang yang lebih berbobot nilai.  Uang yang ”raib” di Bank Century itu kan banyak. Kau bisa bayangkan berapa truk jika merika itu. Atau mata uang asing seperti Euro, foundsterling, dan lain-lain.

Ribu Kak, ceritakan tentang uang Amerika itu. Aku tak pernah bertemu mereka.
Ratus

Wah, ini dia. Seram. Seramlah pokoknya. Seringkali aku bertatapan dalam jarak pendek dengan mereka. Ada rasa rendah diri yang dalam. Bahan kertasnya dan gambar orang yang ada di dalam mata uang itu barangkali yang membuat nilai mereka jauh sekali lebih tinggi dari kita-kita.

Ribu Emang bagaimana, kak?
Ratus

Yah, susah melukiskannya. Tetapi aku cukup mengatakan bahwa gambar yang ada disitu, gambar seorang Presiden itu aku kira. Itu yang membuat banyak orang-orang terpenting dari berbagai negara di dunia ini menyembah kepada mereka. Kagum, dan merasa rendah diri.

Ribu Lho. Kita kan juga punya Presiden. Juga para pahlawan. Semua itu dengan gagah menghiasi kita-kita. Apa itu tak cukup? Apa maksud kaka?
Ratus

Hmm. Memang susah menggambarkan ini kepadamu. Aku tahu kau berlukiskan seorang pahlawan besar. Tapi siapa yang peduli itu? Kau tak akan bisa menghiburku jika nanti sedih menceritakan semua pengalaman pahitku.

Ribu

Solider, kak. Aku siap mendukungmu, kak. Kesedihanmu kesedihanku juga. Kan sama-sama uang Republik Indonesia?

Ratus

Tadi udah kuisyaratkan satu tas jenis kita ditukar dengan hanya sekantong celana saja uang Amerika itu. EURO lebih tajam. Satu tas jenis kita bisa cuma beberapa lembar mereka. Ini sepenuhnya membingungkan. Membingunkan. Tidak adil. Aku tak rela direndahkan begitu selamanya.

Ribu dan Ratus (sambil tersedu berlinang airmata) Indonesia tanah airku

Tanah tumpah darahku

Disanalah aku berdiri

Jadi pandu ibuku

Indonesia kebangsaanku…..

Belum selesai mereka nyanyikan, tiba-tiba tukang ojek harus memisahkan mereka. Tukang ojek membelanjakan si Ratus untuk keperluan hari itu (beras, minyak lampu, garam, cabe,dan sayur kangkung).

source: ‘nBASIS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: