Skip navigation

MINGGU PAGI, 25 Juli 2010, tepatnya sejak shubuh,  saya memulai hari dengan aktivitas yang ringan-ringan. Membaca sejumlah pesan yang masuk melalui email maupun memberi respon kepada teman-teman  jaringan facebook.

Sebetulnya sejak Sabtu siang saya mestinya berada di Jakarta memenuhi undangan Musyawarah Nasional dari Ketua Umum (Denny JA) dan Sekretaris Jenderal (Umar Bakry) Asosiasi Riset  Opini Publik Indonesia (AROPI).  Sampai Sabtu menjelang tengah malam Sekretaris Jenderal masih mempertanyakan “mengapa belum hadir di arena”. Saya hanya memberi alasan atas ketidak-hadiran, sambil mendorong beliau agar lebih bergairah ke depan dan memajukan organisasi yang masih belia ini untuk semakin mampu memberi kiprah yang dibutuhkan oleh masyarakat yang sedang beranjak.

Akun Kopral Cepot di Facebook menggoda saya beranjak menuju ke blognya yang khas yang diberinama SERBASEJARAH. Ada sebuah posting hangat di sana, berjudul Sisingamangaraja XII (1845 – 1907) Pejuang Islam yang Gigih. Saya sudah pernah mengunjungi blog ini sebelumnya dan bahkan utuk posting ini saya sudah memberi sebuah komentar, demikian:

Saya amat awam tentang sejarah. Tetapi karena topik ini saya nilai amat hangat, daya tariknya pun membuat saya (mohon izin) tertarik untuk ikutan beri komentar.

Mungkin pertama-tama Kopral Cepot perlu diberi beberapa pertanyaan kunci sehubungan dengan tulisannya ini. Di antaranya tentang sumber-sumber dan metode yang dia gunakan untuk penulisan. Tentang sumber memang ada 2 blog yang dicantumkan, selain menyebut beberapa nama dan lembaga, termasuk RMG (lembaga misi yang mengutus Ompu i  Nommensen.

Kecuali itu beberapa hal yang amat menarik perhatian, dan mungkin diskusi kritis sebaiknya diarahkan untuk menilainya (menyanggah atau menerima). Sebab tampaknya pokok masalahnya ada pada beberapa pernyataan kunci yang di antaranya ialah:

(1) Situasi sosial, ekonomi dan politik semasa era Sisingamangaraja XII yang oleh Kopral Cepot digambarkan dengan kalimat panjang ini:

“Penobatan Si Singamangaraja XII sebagai Maharaja di negri Toba bersamaan dengan dimulainya open door policy (politik pintu terbuka). Belanda merasa perlu mengamankan modal asing yang beroperasi di Indonesia yang tidak mau menandatangani Korte Verkaring ( perjanjian pendek) di Sumatra terutama Aceh dan Tapanuli. Kedua konsultan ini membuka hubungan dagang dengan negara-negara Eropa lainya. Belanda sendiri berusaha menanamkan monopilinya di kedua kesultanan tersebut. Politik yang berbeda ini mendorong situasi selanjutnya untuk melahirkan peperangan yang berkepanjangan hingga puluhan tahun…”

Dalam kalimat di atas terkandung penggambaran situasi politik yang di dalamnya Si Singamangaraja XII tidak hidup seperti di ruang hampa yang tak dipengaruhi oleh kepentingan politik yang besar dari luar. Memahami kerangka ini akan sangat membantu memahami pernyataan-pernyataan yang dituturkan Kopral Cepot pada bagian-bagian berikutnya.

(2) Amat diperlukan argumen dan penuturan fakta untuk secara objektif menilai (menolak atau menyetujui) pernyataan Kopral Cepot berikut ini:

“Satu yang masih terus jadi bahan diskusi hingga hari ini, adalah agama yang anutan Sisingamangaraja XII. Sebagian yakin, dia penganut kepercayaan lama yang dianut sebagian besar orang Batak. Mirip dengan dua agama besar dunia Islam dan Kristen, agama Batak hanya mengenal satu Yang Maha Kuasa, Debata Mulajadi Na Bolon atau Ompu Mulajadi Nabolon. Sekarang agama Batak lama sudah ditinggalkan, walau tentu saja kepercayaan tradisional masih dipertahankan…”

Tentulah hal ini yang paling banyak mengundang protes. Itu terlihat dari komentar yang masuk, melulu soal ini. Tetapi Kopral Cepot harus “dibungkam” hanya dengan argumen dan pembuktian atas kesalahan pernyataannya.

(3) Juga kalimat berikutnya:

“Daya tempur yang sangat lama ini karena di tunjang oleh ajaran agama islam. Hal ini jarang jarang di kemukakan oleh para sejarawan, karena merasa kurang relevan dengan predikat Pahlawan Nasional. Atau karena alasan-alasan lain merasa kurang perlu membicarakanya. Kalau toh mau membicarakan tentang agama yang di anut oleh Si Singamangaraja XII, mereka lebih cenderung untuk mengakui Si Singamangaraja XII beragama Pelbagu. Pelbagu semacam agama animisme yang mengenal pula pemujaan dewa. Debata Mulajadi sebagai mahadewa…”

Memang seolah semakin tak “termaafkan” rasanya Kopral Cepot ini (bagi yang tak setuju). Sekali lagi ia hanya dapat “dibungkam” dengan pembuktian bahwa ia sudah membuat pernyataan bohong.

(4) Posisi pernyataan berikut tak kurang pentingnya dinilai:

“Satu hal yang sukar diterima adalah bila Si Singamangaraja XII beragama animisme, karena kalu kita perhatikan Cap Si Singamangaraja XII yang bertuliskan huruf arab berbunyi; Inilah Cap Maharaja di negri Toba kampung Bakara kotanya. Hijrah Nabi 1304. Pada cap tersebut terlihat jelas penggunaan tahun hijriah Nabi. Hal ini memberikan gambaran tentang besarnya pengaruh ajaran Islam yang menjiwai diri Si Singamangaraja XII. Adapun huruf batak yang masih pula di abadikan, adalah sama dengan tindakan Pangeran Diponegoro yang masih mengguakan huruf jawa dalam menulis surat…”

Memang menjadi agak membingungkan pula. Sungguh. Mengapa Sisingamangaraja XII menyebut Hijrah Nabi, dan Nabi yang dimaksudkan itu tampaknya mudah diinter-pretasikan. Apakah bendera dan cap (stempel) kerajaan asli Sisingamangaraja XII yang digunakan sebagai dasar pendapat ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, itu perlu diposisikan. Untuk kesekian kalinya Kopral Cepot perlu “dibungkam” dengan argumen dan data.

(5) Kemudian, berdasarkan pernyataan Kopral Cepot, jika Mohammad Said dalam bukunya Si Singamangaraja XII hanya sekadar menduga bahwa Si Singamangaraja seorang Muslim, didasarkan pada informasi dalam tulisan Zendeling berkebangsaan Belanda, J.H Meerwaldt, yang pernah menjadi guru di Narumonda dekat Porsea, tetapi mengapa kemudian informasi yang lebih tegas diperdapat dari majalah Rheinische Missions Gessellschaft (1907) yang diterbitkan di Jerman?

Jika bukan Kopral Cepot yang bohong atau sumber-sumber Kopral Cepot tak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, rasanya tidak mungkin RMG membuat informasi yang kurang akurat tentang hal ini, karena menyangkut sebuah tantangan dalam tugas “penggembalaan” tentunya. Namun untuk kesekian kalinya pula Kopral Cepot perlu ditagih tentang akuraditas dan validitas sumber ini.

(6) Tentang kebenaran fakta dalam kalimat ini perlu ditilik sumber-sumbernya:

“Perwira terlatih Aceh ikut dalam pasukan Sisingamangaraja XII untuk membantu strategi pemenangan perang, sementara perwira Batak terus dilatih di Aceh. Salah satunya Guru Mengambat, salah seorang panglima perang Sisingamangaraja XII. Guru Mengambat mendapat gelar Teungku Aceh….”

Akhirnya, meskipun Kopral Cepot dengan merendah menyatakan dirinya bukan ahli sejarah, melainkan seorang pembelajar, namun sebaiknya pada tempatnya ia diberi bukti-bukti yang menyanggah semua pernyataan-pernyataan kontroversialnya itu.

Atau mungkin saja kesalahan terletak pada ketidak-validan sumber-sumber yang digunakan Kopral Cepot, atau soal metode kerja yang tidak tepat.

Atau, sebaiknya dinyatakan saja bahwa hal ini memang cuma urusannya orang-orang ahli sejarah.

Mohon maaf, dan terimakasih untuk kita semua. Horas.

Tanggapan di atas saya tulis setelah merasakan kecenderungan “caci maki” yang ditujukan kepada Kopral Cepot oleh kebanyakan pemberi komentar. Komentar-komentar itu kebanyakan hanya mengekspresikan keberatannya tentang keberagamaan Si Singamangaraja XII (Islam) tanpa memasuki substansi. Tanpa memasuki substansi saya maksudkan dalam pengertian tidak adanya penilaian (sanggahan atau penerimaan) berdasarkan  argumen-argumen dan data-data yang diperlukan untuk sebuah penilaian (sanggahan maupun penerimaan) terhadap apa yang dikemukakan oleh Kopral Cepot.

Saya menjadi teringat nada tanggapan-tanggapan serupa yang diterima Nirwansyah Putra Panjaitan dalam blognya  Tukang Ngarang ketika menurunkan posting yang mirip. Hal yang juga diterima oleh ‘nBASIS untuk topik yang sama.  Ini fakta, bahwa sejumlah orang yang sama sekali tidak merencanakan dan di antaranya bahkan tak saling kenal, menulis satu topik dan mendapat tanggapan serupa. Solidaritas yang sama untuk menolak juga ada di sisi lain.

Dalam salah satu jawaban yang diberikan Nirwansyah Putra Panjaitan antara lain ia dengan sedikit jengkel mengatakan agar setiap orang yang akan memberi komentar sudi lebih dulu membaca naskah secara cermat sebelum berkomentar, atau memang sebaiknya belajar lagi.

Menyimak keseluruhan komentar yang  diberikan untuk Kopral Cepot saya merasakan penting sekali sekadar mengajak untuk sama-sama mencari “sesuatu yang diperlukan” untuk mendiskusikan secara baik topik kontroversial Kopral Cepot.  “Bungkam” saja Kopral Cepot itu hanya dengan perlawanan data.

Motif itulah yang membawa saya, atas bantuan pak Google, ke Politik Agama Penjajah  Belanda di http://porseauli.blogspot.com/. Di blog ini saya bertemu dengan penuturan dari bahan-bahan yang sebagiannya sudah pernah saya baca. Lalu saya kembali lagi ke Kopral Cepot dan menuliskan tanggapan kedua saya demikian:

Jika ada yang sudah membaca buku karya WB Sidjabat “AHU SISINGAMANGARAJA” tentu sudah amat akrab dengan isi tulisan Kopral Cepot. Karya Sidjabat bertalian erat dengan upaya penyanggahan pernyataan pada buku Mohammad Said “Dari Halaman-Halan terlepas mengenai Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII).

Posisi Kopral Cepot ada di pihak yang berseberangan dengan WB Sidjabat, dan merupakan orang kesekian yang mengulangi pernyataan Mohammad Said dengan metode dan argumen-argumennya.

Keberagamaan Sisingamangaraja XII dalam “diskusi” WB Sidjabat dan Mohammad Said pada intinya tertumpu pada interpretasi terhadap beberapa indikator penting seperti pola kehiduoan sehari-hari Sisingamangaraja XII dan para pengikut terdekatnya, hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan sekitar, simbol-simbol penting seperti bendera, stempel kerajaan, dan lain-lain.

Kalau saya tidak salah, WB Sidjabat dan Mohammad Said beserta semua orang yang berada pada kedua kubu pemikiran itu juga menggunakan bahan-bahan telaahan dari masa lalu, yang pada umumnya bersumber dari pihak pemerintahan Belanda, Petugas dan lembaga keagamaan, serta para ahli di belakang hari. Generasi kita sekarang, terutama mereka yang berkesempatan melakukan telaahan serius, tentulah dapat menggunakan dan mengkritisi serta menginterpretasi bahan-bahan yang tersedia di pusat-pusat pemeliharaan data sejarah dalam negeri maupun di Belanda dan jerman serta tempat-tempat lainnya. Untuk menyebut beberapa contoh saja, sebutlah misalnya:

(1) O.J.H.Draaf van Limbung Strum, yang mengisahkan kebijakan AP Gordon (1849), Asisten Residen Mandailing Angkola, yang berkaitan dengan hal-hal menyangkut komunitas agama, Islam dan Kristen. pada masanya.

(2) Beslit Rahasia Gubernur Jenderal Pemerintahan Belanda (No 1,3 Juni 1889) tentang pelarangan orang tertentu menjabat Kepala Desa atau pegawai. Peraturan atau kebiasaan diskriminatif terhadap pemeluk agama pun demikian kental. Dari sini kemudian muncul kisah dua orang Residen Tapanuli (Westenberg dan Barth) yang bertindak sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889 tersebut (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie, 1906-1942, Arnheim , 1966). Sekaitan dengan itu pula muncul kisah Kepala Kampung Aman Jahara Sitompul (1903) di Janji Angkola (sekarang Kecamatan Purbatua, Kab Tapanuli Utara) yang melaklukan perlawanan terhadap isi surat rahasia itu (Christelijke Zending en Islam in Indonesia”, dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden). Juga dalam karya Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli 1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93.

(3) Koleksi G.A.J Hazeu dan Nota Lulofs 11 Juli 1915 yang termuat dalam karya Lance Castle) tentang upaya-upaya lanjutan Belanda memecah belah, antara lain tentang upaya memvakumkan hubungan perdagangan antara daerah Singkel dan Dairi (Surat Residen Tapanuli Westenberg ke Gubernur Jenderal tanggal 9 Oktober 1909). Penting juga menganalisis kejadian pada tahun 1915 tatkala Lulofs memberikan instruksi sektarian kepada bawahannya agar dibuat batas baru di sebelah utara Janji Angkola, dan politik anti-Islam hanya boleh dilaksanakan di sebelah Utara desa tersebut. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 16 Mei 1916, Lulofs menjelaskan bahwa dengan adanya garis pemisah, maka bisa diadakan tindakan tegas dalam daerah tertutup.

(4) Rekomendasi van Der Tuuk. R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962, hlm 81-84). H.N. vander Tuuk adalah missionaris (1851- 1857) yang menetap di tanah Batak atas utusan Lembaga Bijbel. Di antara hasil kajiannya kemudian beliau memberikan beberapa rekomendasi untuk memperlancar tugas-tugas para missionaris itu di tanah Batak.

(5) Buku-buku karya Gottfried Simons, seorang tokoh yang pernah bertugas sebagai Zendeling Jerman di Sumatera (1896-1907) yang dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft) antara lain ialah (a) Islam und Christentum im kampf um die Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (b) Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926). Reformbewegungen in Islam (artikel).

Kopral Cepot seakan dengan “enteng” menyebut Sisingamangaraja XII itu beragama Islam. Memang untuk sebagian orang pastilah berat menerima pernyataan itu dan hal itu pun juga bukan hal baru.

Residen Tapanuli dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal tanggal 22 Juli 1916 mengutip catatan harian seorang zendeling bernama Muller. Alkisah, seorang haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta Lumban dalam urusan menyangkut enam orang Batak pelebegu yang menyatakan keinginannya masuk Islam. Muller berusaha, tetapi tidak berhasil menarik mereka dari Islam. meskipun keenam orang tersebut diancam akan dibuang. (Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni 1916). Catatan ini terdapat pada Koleksi G.A.J Hazeu. Disitu dilaporkan pula, adanya 5 orang Batak Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang dihukum. Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang kemudian dapat diterjemahkan sebagai usaha menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak. Kepada mereka itu (dituduh telah menyebarkan agama Islam) dikenai hukuman dengan satu bulan, karena tidak menaati peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. (Surat asisten Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916).

Lance Castle juga melaporkan kejadian para petani di Sipakpaki Sibolga ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk acara tersebut (Laporan penelitian anggota Dewan Penasehat Hindia Belanda tahun 1917).

Karena diperkirakan topik hangat ini masih akan berlangsung lama, maka hal-hal yang patut disikapi ialah aturan-aturan dasar dalam mengemukakan pendapat serta sikap menghadapi perbedaan pendapat.

Hal itu diharapkan dapat mengeliminasi perpecahan di antara sesama anak bangsa. Bagaimanapun juga, kebenaran tentang yang dipermasalahkan ini hanya satu dan itu cepat atau lambat pastilah terbuka secara luas kelak.

Hendaknya pula soal status keberagamaan Sisingamangaraja XII tidak menjadi faktor yang merenggangkan di antara sesama anak bangsa, khususnya di antara orang Batak, apa pun agamanya.

Kopral Cepot, bagaimana pun juga, menurut saya telah berusaha menerangkan sesuatu dan sesuatu itu baginya tampaknya sama dengan sesuatu yang lain, yang perlu diselidiki dan diwartakan. Kesimpulan ini saya ambil berdasarkan telaahan saya terhadap hampir seluruh tulisan yang pernah dibuat oleh Kopral Cepot dalam blognya http://serbasejarah.wordpress.com ini.

Saya tidak tahu apakah saran ini bermanfaat atau tidak. Dengan segala hormat dan tanpa maksud menggurui, saya ingin Kopral Cepot mencoba mendapatkan dan menelaah bahan-bahan yang saya kemukakan di atas.

Menurut saya bahan-bahan itu lebih dari cukup untuk menggambarkan bagaimana pertentangan-pertentangan yang terjadi di tanah Batak dalam hal agama dan keberagamaan khususnya sekitar periode Sisingamangaraja XII.

Terimakasih. Horas.

Ingwer Ludwig Nommensen

Pagi ini pak Google yang baik hati banyak memberi bantuan cuma-cuma kepada saya. Dia mengantar saya ke sumber-sumber informasi penting lainnya yang amat sangat bersinggungan dengan kontroversi keberagamaan Si Singamangaraja XII. Di antara informasi amat penting itu ialah tentang Ingwer Ludwig Nommensen, Ephorus Pertama Gereja HKBP yang “digembalakannya” sejak dari nol hingga menjadi (kini) salah satu gereja suku-bangsa yang terhitung besar bahkan untuk tingkat dunia.

Bertemulah dengan Nommensen dan Peradaban Batak yang mengawali penuturannya dengan kutipan doa sang Apostel Batak yang terkenal itu berbunyi Hidup atau mati biarlah aku tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk menyebarkan firman dan kerajan-Mu. Amin,  yang kemudian diikuti oleh lead yang amat menarik demikian:

Berbicara tentang peradaban Batak, barangkali akan lain ceritanya jika Dr Ingwer Ludwig Nommensen tidak pernah menginjakkan kakinya di Tanah Batak. Siapakah dia dan mengapa ia dijuluki sebagai “Apostel Batak”? Nommmensen adalah manusia biasa dengan tekad luar biasa. Perjuangan pendeta kelahiran 6 Februari 1834 di Marsch Nordstrand, Jerman Utara itu dalam melepaskan animisme dan keterbelakangan dari peradaban Batak patut mendapatkan penghormatan”.

Kalimat-kalimat senada sering saya temukan dari penuturan karya tokoh-tokoh Batak pada umumnya.  Dengan tanpa meninggalkan rasa simpatik terhadap Nommensen dan Peradaban Batak saya lanjutkan lagi minta tolong kepada pak Google. Dia mendrop saya di Wikipedia berbahasa Inggeris. Saya sedikit kaget dan seakan tak percaya apa yang saya baca. Cobalah Anda juga ikut menyimaknya:

Ludwig Ingwer Nommensen (1834 – 23 May 1918) was a German Lutheran missionary to Sumatra who also translated the New Testament into the native Batak language. Stephen Neill, a historian of missions, considered Nommensen one of the greatest missionaries of all time. He is commemorated as a missionary on November 7 in the Calendar of Saints of the Lutheran Church with John Christian Frederick Heyer and Bartholomäus Ziegenbalg.

Nommensen was born in the Nordstrand peninsula in 1834, when the area was within Denmark. In 1846, a horse cart rolled over his legs, crushing them. The initial prognosis was that he would be unlikely to walk again. After praying for recovery, some three years later, he was able to walk again.

An interest in Christian missionary work led to his enrolment at the Rhenish Missionary Society seminary at Wuppertal-Barmen in 1857. He was sent as a missionary to Sumatra in 1862. He focused his attention on the Batak people of the interior of Sumatra. His first mission station was in the Silindung Valley. He experienced initial difficulties, but later succeeded in converting several local chiefs and their followers to Christianity. By 1865 he reported that 2000 Batak had converted to Christianity. At first most converts had to leave their villages, and came to live with Nommensen in his Huta dame (Village of Peace). In 1878 he completed the first translation of the New Testament into the Batak language.

In the same year he, his fellow missionaries, and the Christian Batak were threatened by the Batak priest king Singamangaraja XII who had gained support from Aceh that was involved in a war against the Dutch occupants. Nommensen called the Dutch army for support, and in the subsequent military expedition against Singamangaraja XII, which became known as the First Toba War, Nommensen played a prominent role in serving the colonial army as an interpreter and cultural consultant. Nommensen himself laid out his involvement in the war in a report that was published in BRMG 12, 1878:361-81.

In 1890 he moved north to the village of Sigumpar near Laguboti. The area had greater Islamic influences, but Nommensen remained successful in building an indigenous Batak church. He had already instituted a church order and hierarchy, overseen by a Batak ephorus. By the time of his death the church numbered 180,000 members, with 34 Batak pastors and 788 teacher-preachers. Today most Toba Batak Christians belong to the Huria Kristen Batak Protesten (HKBP) church, one of the largest church denominations in Asia.

He was awarded an honorary doctorate of theology by the University of Bonn, and in 1911 he was made an officer of the Dutch Order of Orange-Nassau. The Batak Christian University at Medan and Pematang Siantar was named Nommensen University in 1954.

Ludwig Ingwer Nommensen (1834 – 23 Mei 1918) adalah seorang misionaris Protestan Jerman ke Sumatra yang juga menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Batak asli. Stephen Neill, seorang sejarawan misi, dianggap Nommensen salah satu misionaris terbesar sepanjang masa. Dia diperingati sebagai misionaris pada 7 November dalam kalender Santo Gereja Kristen Lutheran dengan John Frederick Heyer dan Bartholomäus Ziegenbalg.

Untuk lebih meyakinkan saya minta tolong lagi ke pak Google menterjemahkan ke bahasa Indonesia. Akhirnya muncul 3 pertanyaan (a)  “keterlibatan” Nommensen membantu tentara Belanda dalam perang pendudukan tanah Batak; (b) ancaman  apa saja gerangan yang mungkinan dirasakan oleh beliau (Nommensen) karena kedekatan “The Batak Priest King” Sisingamagaraja XII dengan Aceh (c) tentang pernyataan  “in 1911 he was made an officer of the Dutch Order of Orange-Nassau”.

Dari sini pak  Googel mengantar saya ke Wikipedia berbahasa Indonesia untuk mencari informasi yang sama. Ternyata isinya jauh berbeda dengan Wikipedia berbahasa Inggeris. Bedanya lagi, dalam Wikipedia berbahasa Indonesia terdapat bahan rujukan yang salah satunya berjudul  Peran Zending dalam Perang Toba. Perjalanan kilat ke  blog ini menghasilkan pengenalan awal saya terhadap seorang bernama Uli Kozok yang lahir di Hildesheim dan bersekolah di kota Norden, negara bagian Niedersachsen (sebelah Barat Laut Jerman).  Kozok menikah dengan seorang wanita suku Melayu dan dikaruniai dua anak. Dalam Catatan di bawah judul Peran Zending dalam Perang Toba itu Uli Kozok mulai bercerita:

Publikasi “Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba” menyorot peran penginjil Jerman dari RMG (cikal bakal VEM), terutama Ludwig Ingwer Nommensen, dalam Perang Batak Toba ke-I. Pada tahun 1877 para missionaris RMG memanggil tentara pemerintah kolonial Belanda karena mereka merasa terancam oleh pasukan Singamangaraja XII dan karena takut keberhasilan zending akan lenyap bila para misionaris diusir dari Silindung dan Bahal Batu. Panggilan misionaris segera ditanggapi oleh pihak pemerintah. Pada 6 Februari 1878 pasukan Belanda tiba di Pearaja, kediaman penginjil Ludwig Ingwer Nommensen, dan bersama-sama dengan penginjil Nommensen mereka berangkat ke Bahal Batu untuk menyusun benteng pertahanan. Si Singamangaraja yang merasa terprovokasi mengumumkan perang (pulas) pada tanggal 16 Februari. Pemerintah Belanda dan para penginjil memutuskan agar lebih baik untuk tidak hanya menyerang markas Singamangaraja di Bangkara tetapi untuk sekalian menaklukkan seluruh Toba. Penginjil Nommensen dan Simoneit mendampingi pasukan Belanda pada perjalanan ekspedisi militernya dari bulan Februari hingga Mei 1878. Puluhan kampung (huta) Batak dibakar dan para raja huta diharuskan bersumpah setia pada pemerintah Belanda dan membayar pampasan perang. Jumlah korban jiwa di pihak Singamangaraja tidak diketahui dengan pasti namun bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan orang. Penginjil Nommensen yang mendampingi tentara penjajah dalam ekspedisi militer mencatat secara akurat kisah berlangsungnya Perang Toba Pertama.

Kutipan di atas adalah catatan pengakuan  Uli Kozok tentang buah karyanya yang didasarkan pada catatan otentik pihak zending yang untuk pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tampaknya apa yang saya pertanyakan di atas, yakni (a)  “keterlibatan” Nommensen membantu tentara Belanda dalam perang pendudukan tanah Batak; (b) ancaman  apa saja gerangan yang mungkinan dirasakan oleh beliau (Nommensen) karena kedekatan “The Batak Priest King” Sisingamagaraja XII dengan Aceh (c) tentang pernyataan  “in 1911 he was made an officer of the Dutch Order of Orange-Nassau”, sedikit banyaknya menjadi terjawab di sini. Bahkan dalam uraian pendahuluannya selanjutnya Uli Kozok berkata:

“Mereka mengatakan secara blak-blakan bahwa kami pelopor pemerintah kolonial yang awalnya berbuat amal dengan cara memberi obat dsb. untuk akhirnya menyerahkan tanah dan rakyat kepada pemerintah”. Demikian keluhan I.L. Nommensen ketika baru membuka pos zending di lembah Sipirok. Dugaan orang Sipirok ternyata benar. Tidak lama sesudah pindah ke lembah Silindung, tepatnya pada awal tahun 1878, Nommensen berulang kali meminta kepada pemerintah kolonial agar selekasnya menaklukkan Silindung menjadi bagian dari wilayah Hindia-Belanda.

Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan permintaan Nommensen sehingga terbentuk koalisi injil dan pedang yang sangat sukses karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama: Singamangaraja XII yang oleh zending dicap sebagai “musuh bebuyutan pemerintah Belanda dan zending Kristen”. Bersama-sama mereka berangkat untuk mematahkan perjuangan Singamangaraja. Pihak pemerintah dibekali dengan persenjataan, organisasi, dan ilmu pengetahuan peperangan modern sementara pihak zending dibekali dengan pengetahuan adat-istiadat dan bahasa. Kedua belah pihak, zending Batak dan pemerintah kolonial, saling membutuhkan dan saling melengkapi, dan tujuan mereka pun pada hakikatnya sama: Memastikan agar orang Batak “terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa”.

Berkat pengetahuan bahasa dan budaya pihak zending (terutama zendeling Nommensen dan Simoneit) berhasil meyakinkan ratusan raja agar berhenti mengadakan perlawanan dan menyerah pada kekuasaan Belanda. Yang tidak mau menyerah didenda dan kampungnya dibakar.

Melalui Gubernur Sumatra pemerintah Belanda membalas budi para penginjil dengan mengeluarkan surat penghargaan yang resmi:

Pemerintah mengucapkan terima kasih kepada penginjil Rheinische Missions-Gesellschaft di Barmen, terutama Bapak I. Nommensen dan Bapak A. Simoneit yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah diberikan selama ekspedisi melawan Toba.

Selain surat penghargaan, para misionaris juga memperoleh 1000 Gulden dari pemerintah yang “dapat diambil setiap saat”.

Kerjasama antara para penginjil RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) dan pemerintahan kolonial berlangsung sampai musuh mereka, Singamangharaja XII, tewas dalam pertempuran dengan tentara Belanda pada tahun 1907.

[Nomor dan Catatan Kaki tidak disertakan dalam kutipan ini].

Apresiasi

Pertanyaan-pertanyaan saya minggu pagi, pekan terakhir Juli 2010 ini, kiranya ingin tidak cuma saya tandai dengan pencatatannya dalam blog ini. Tetapi juga dengan sebuah rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa (Mula Jadi Na Bolon) dan penghargaan kepada mereka yang nama-nama dan karyanya saya sebutkan. Banyak pertanyaan yang tetap belum terjawab dan boleh jadi itu akan menjadi bagian-bagian penting yang terpaksa dibebankan kepada generasi mendatang. Tetapi catatan amat istimewa untuk Uli Kozok amat wajar diberikan di sini mengingat kedudukan karyanya yang boleh jadi akan menjadi kunci paling menentukan dalam kontroversi selama ini.  Dalam karyanya Utusan Damai di Kemelut Perang ditemukan informasi yang amat kaya. Perhatikan daftar isinya:

Interaksi Uli Kozok dengan pembacanya juga perlu dibaca. Gerep Nahinan pasti akan kembali bercerita tentang ini, nanti.

3 Comments

  1. Posting saya tentang SM XII 30 Maret 2009, sementara penelitian Dr. Uli Kozok di publish bulan Juli 2009, mungkin posting saya terlalu cepat sehingga ruang argumentasinya tdk didukung oleh data dari Dr.Uli yang sungguh luar biasa.

    Dan entah kenapa saya ngak teliti membaca tulisan pak Imbalo yang sudah lama saya baca disini http://imbalo.wordpress.com/2009/07/27/soal-si-singamangaraja-xii-gugur-sebagai-pahlawan-islam/ .. padahal disitu ada informasi tentang Dr. Uli, mungkin konsentrasi sy saat itu pada komentar yang mirip di serba sejarah sehingga perlu membuat tambahan tulisan disini http://serbasejarah.wordpress.com/2009/09/28/mempersoalkan-agama-sisingamangaraja-xii/

    Sejak malam saya begadang buat donlot yang super lemot dan baru pagi ini saya coba membacanya…

    Komentar Pak Gerep dan tulisan ini memicu saya untuk membaca kembali tentang SM XII yang sudah hampir satu tahun saya biarkan komentar yg masuk tanpa ditanggapi krn tidak menambah pencerahan dan komentarnya stagnan ..

    Hari ini saya coba tamatkan bacanya. Hatur tararengkyu atas informasi yang amat sangat membantu saya dalam belajar menghargai “Indonesia”😉

    Pak Gerep: saling memberi dan saling menerima, itulah hakekatnya. bersinergi membangun bangssa, cita-cita yang baik meski susah dilakukan. Terimakasih dan apresiasi untuk kerja sendiri yang amat luar biasa dari Kopral Cepot.

  2. Salut kepada Pak Gerep dari Medan dan Pak Kopral Cepot dari Bandung yang memiliki kecerdasan argumentasi yang mencerahkan.
    Apa yang ditemukan Uly Kozok sebenarnya masih terngiang di sanubari para tokoh Batak yang berusia 70 tahun yang saya temukan pada tahun 1980 lalu. Sekarang sudah langka generasi Batak yang memahami sejarah yang terkubur karena dominasi penulis yang dipengaruhi latar agama yang dipeluknya.

    Mungkin para pembuat sejarah “misterius” zaman dulu tidak menyadari kecerdasan manusia zaman millenium ini sehingga segala sesuatunya bisa terbuka dan dijernihkan.

    Saya tidak bisa berkomentar banyak atas argumentasi saudara berdua karena saya juga awam sejarah.

    Selamat berjuang untuk kecerdasan Indonesia Merdeka. Salam dari Toba.

    Pak Gerep:distrosi sejarah Batak memang benar seperti pak Tono Batak katakan itu, terlalu diwarnai oleh kepentingan tertentu. kebenaran memang tidak pernah bisa dikubur. terimakasih pak Tano Batak. Berkaryalah terus.

    • Azmis Sirajuddin
    • Posted Desember 26, 2010 at 4:57 am
    • Permalink
    • Balas

    Untuk saat ini, tidak perlu memperdebatkan keyakinan atau agama apa yang dianut oleh pahlawan kita Yang Mulia Sisingamangaraja XII. Yang jelas, spirit perjuangannya yang anti-kolonialisme dalam semua bentuknya (termasuk penjajahan bangsa asing atas bangsa pribumi Nusantara, atau perbudakan yang dipraktekan oleh orang-orang kaya dan tuan-tuan tanah dan raja lokal) patut kita apresiasi dan jadikan simbol dalam melawan segala penindasan terhadap hak asasi manusia di Indonesia.

    Bukankah beliau SM XII sebelum memaklumkan perang terhadap Belanda membuat tiga poin kesepakatan dengan para Raja Huta dan Panglimanya, yang salah satu isinya : menghormati keyakinan beragama termasuk misi zending Kristen yang sedang dibangun oleh Misionaris Nommensen dari Jerman. Sehingga, kita tidak perlu pula memperdebatkan kedekatan beliau dan persekutuan beliau SM XII dengan Aceh dalam perang melawan Belanda di Sumatra. Bahkan, kalaupun terbukti bahwa dengan kedekatan SM XII terhadap Aceh membuat beliau merubah keyakinannya dari Parmalim (Ompu Mulajadi Na Bolon) ke mungkin “Islam” karena pengaruh Aceh, maka itu hak asasi beliau juga yang harus kita hargai.

    Gerep: sikap seperti itu memang bijak. terimakasih


One Trackback/Pingback

  1. By LUDWIG INGWER NOMMENSEN « 'nBASIS on 04 Agu 2010 at 11:55 pm

    […] posting menarik di Gerep Nahinan menggambarkan mulai terbukanya hal-hal yang selama ini jarang diketahui oleh orang banyak tentang […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: