Skip navigation

Apa persepsi Anda tentang media dalam politik? Berdasarkan penelitian Asosiasi Jurnalistik Indonesia (AJI) Medan, terdapat fakta perilaku pemihakan media yang “sukar difahami” dari sudut prinsip-prinsip jurnalistik sendiri. Tidak aneh memang sesuatu media memberi pemihakan yang jelas-jelas dalam politik, tetapi jika prinsip-prinsip jurnalistik terabaikan, itu berarti sebuah kerugian besar. Inilah hasil lengkap penelitian AJI yang memotret perilaku media pada perhelatan pemilukada kota Medan putaran pertama tempo hari.

Ketika perhelatan usai untuk putaran pertama dan KPUD Kota Medan menetapkan pasangan Rahudman Harahap-Dzulmi ldin dan Sofyan Tan-Nelly Armayanti yang berhak maju ke putaran kedua, AJI merasa perlu angkat bicara. Jelang pelaksanaan putaran kedua itu mereka mengajak seluruh pekerja media maupun perusahaan media massa di Kota Medan untuk bersikap independen dalam pemberitaan atas para pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Medan tahun 2010-2015.

Rika Yoesz, Ketua AJI Medan,  menyerukan hal itu melalui siaran persnya. Katanya, dalam hasil penelitian yang dilakukan AJI Medan selama April 2010, media tidak memberikan porsi yang sama terhadap pemberitaan calon walikota Medan periode 2010-2015. “Dari hasil rekapitulasi terdapat perbedaan yang cukup mencolok, media lebih banyak memberikan porsi berita kepada pasangan calon walikota tertentu,” paparnya.

Pasangan yang paling banyak mendapatkan porsi pemberitaan adalah Rahudman-Dzulmi Eldin, dengan luas pemberitaan 54.884 cm2 atau 26,95%. Diikuti dengan pasangan Ajib-Binsar 37.221 cm2 atau 18,28% dan Sofyan Tan-Nelly sebanyak 27.437 cm2 atau 13,47%. Pasangan yang paling sedikit mendapatkan porsi pemberitaan adalah Profesor Arif-Supratikno dengan luas hanya 1.130 cm2 atau 0,55%.

Rika juga menilai, media lebih banyak menyuguhkan berita-berita positif tentang kegiatan calon Walikota, maupun tentang sosok/profil calon walikota. “Dari hasil analisis selama satu bulan berita di sepuluh Media, keseluruhan berita seluas 203.585 cm2, terdapat 198.612 cm2 berita positif atau 97,56%. Sedangkan berita negatif hanya 4.973 atau 2,44%,” jelasnya.

Dalam pemberitaan negatif sendiri, calon pasangan yang paling banyak mendapatkan porsi pemberitaan negatif adalah Ajib-Binsar sebanyak 1.330 cm2 atau 0,65%. Parahnya lagi, ada empat pasangan yang sama sekali tidak pernah memiliki berita negatif yaitu Indra-Delyuzar, Joko-Mirza, Prof Arif-Supratikno dan Maulana-Arif.

Keberpihakan media terhadap salah satu pasangan calon, dinilai Rika, cukup transparan. Kecenderungan keberpihakan ini terlihat dari dominasi salah satu pasangan dalam pemberitaan yang terbit tiap harinya. Dari hasil penelitian bisa dilihat bahwa Harian SIB didominasi oleh berita-berita pasangan Ajib-Binsar dan Sofyan Tan-Nelly. Harian Mimbar Umum didominasi pasangan Ajib-Binsar dan Rahudman-Dzulmi Eldin. Harian Metro 24 cenderung pada pasangan Rahudman-Eldin. Dari sepuluh Media yang diteliti, semuanya cenderung memberikan porsi berita yang cukup besar kepada Rahudman-Eldin. Harian Pos Metro dan Medan Bisnis adalah Media yang paling banyak memberikan berita positif.

“Satu hal yang paling menarik dari analisis berita ini. Pemberitaan yang disuguhkan cenderung sama antara media satu dengan yang lainnya. Baik dalam pemilihan judul, lead, isi berita bahkan gambar. Sepertinya berita itu adalah titipan dari calon kandidat atau tim kampanye yang disampaikan kepada Media, sehingga isi berita satu Media cenderung sama dengan Media lain,” jelasnya lagi.

Rika menilai, seharusnya media dapat memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Dengan juga dapat menyajikan pemberitaan positif dan negatif secara berimbang. Bukan menjadi alat bagi para calon pasangan untuk mempengaruhi pembaca dan membuat opini publik secara berlebihan. Media seharusnya tampil lebih netral dan tidak menunjukkan keberpihakan kepada salah satu pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Medan periode 2010-2015 secara vulgar.

“Kita adalah awak-awak media yang mengemban tugas mencerdaskan bangsa melalui pemberitaan yang kita lakukan. Bukan sebagai alat untuk menjerumuskan bangsa kita sendiri dengan cara-cara keberpihakan yang vulgar,” tegasnya.

Jika “wasit” jadi pemain, apa jadinya?

One Comment

  1. di medan sebelum reformasi tak sampai 10 koran. sekarang ratusan. jadi bagaimana media itu menghidupi diri sedangkan pembaca dan iklan tumbuh tidak sebesar pertumbuhan korannya. itu yang jadi masalah utama.

    Pak Gerep: setuju pak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: